Ketika Mantra Facebook Menyihir Kita

Suatu ketika saya ditanya seorang teman yang meminta alamat “facebook” saya. Facebook (www.facebook.com) adalah sebuah website jejaring social yang memungkin kita terhubung dengan sesama pengguna dan menelusuri teman-teman kita, mirip dengan Friendster (www.friendster.com) hanya saja facebook lebih banyak memiliki pilihan fitur dan lebih dapat menjawab minat pasar sehingga terus meroket. Facebook dicetuskan oleh Mark Zuckerberg sekitar tahun 2004 yang pada awalnya adalah sarana kongkow mahasiswa dari 8 universitas elite di AS (Ivy League)

Sebelumnya sahabat-sahabat saya juga telah mengirim undangan melalui e-mail mereka untuk segera bergabung dalam komunitas facebook yang akhir-akhir ini tengah mengalami booming besar. Namun, saya tidak pernah menggubris tawaran itu karena telah cukup dengan friendster yang selama ini saya kenal. Hingga suatu ketika saya terusik untuk ikut bergabung juga dan seiring perjalanan waktu teman-teman saya di kampus (Universitas al-Ahgaff) khususnya juga teman-teman se-negara yang berdomisili di Yaman juga turut meramaikan situs jejaring social itu yang kini memiliki lebih dari 200 juta anggota. Rupanya kami juga tengah “tershir” oleh “mantra” facebook dengan proses pembuatan account cukup mudah bahkan bisa dilakukan via mobile internet.

Sikap Bijak Menyikapi Facebook

Masih lekat diingatan kita, bahwa beberapa waktu yang lalu sebuah komunitas kajian permasalahan (baths al-masail) menelurkan hokum haram terkait pengguna facebook yang nota-bene adalah kalangan kawula muda dimana banyak diantaranya menyalahkan gunakan kecanggihan teknologi itu untuk melakukan kemaksiatan.

Itulah realita masyarakat kita dengan segala heterogenitasnya yang cukup tinggi karena Indonesia adalah Negara kepulauan yang mengakui agama selain Islam – meskipun Islam dianut suara mayoritas – untuk dijadikan pegangan hidup warga negaranya dan juga terdiri dari beragam etnis dan suku. Maka “wasail” semisal dunia teknologi dan informasi yang sebenarnya bersifat netral dapat menjadi boomerang untuk melakukan kejahatan. Na’udzubillah min dzalik

Sebenarnya kita sebagai ummat Islam lebih mampu mengambil peluang untuk melakukan gerakan dakwah menggunakan “mantra” yang dimiliki facebook guna “menyihir” masyarakat untuk memahami Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Kita berikan pemahaman nilai-nilai Islam kepada masyarakat agar tidak menyalahgunakan fasilitas itu untuk kepentingan yang sama sekai ditentang oleh agama, seperti menipu, memprovokasi, meneberkan fitnah dan sejenisnya. Masih banyak faedah yang dapat kita unduh dari kemudahan itu demi tegaknya kalimatullah bagi di dunia realita maupun dunia maya. (AM-Sapura)

 posted @ indo.hadhramaut.info

Categories: Maqolat | 5 Komentar

Navigasi pos

5 thoughts on “Ketika Mantra Facebook Menyihir Kita

  1. Salam kenal ibnmaknun, setuju dengan tulisan ini. Memang kadang FB juga dipakai untuk mengeluh. Jadi tanpa disadari lalu seperti dinding ratapan. Bahaya! Namanya saja dinding, bayangkan ? Ah nanti dibilang paranoid ya. masjokomu.wordpress.com kawan octaSinungSelayar

  2. Waduh gambar masjokomu kok jelek banget Dik. Gimana ngerubahnya haha

  3. ibnmaknun

    .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: